12/04/13

Cerita Tentang Ombak



Desiran angin sepoi-sepoi membuat sedikit bebanku terangkat. 
Dedaunan kering yang terhempas bersama hadirnya angin menerpa kulit. 
Sore ini matahari masih nampak menggantung anggun. 
Walau aku tahu, matahari tak akan setia menemaniku hari ini.

Aku membuka telapak tangan dan mendorong ombak kecil yang datang menghampiri. 
Kakiku telah resmi memasuki kawasan perairan. 
Langkah berat mulai terasa seiring melawan derasnya arus ombak. 



Satu detik...
Dua detik...
Pada ujungnya, detik detik tadi merangkai menit yang membuatku lupa waktu
Aku segera berbalik arah meninggalkan pantai mengingat hari kian sore. 
Tak lupa terus mencoba menggenggam air meskipun aku tahu, air takkan pernah dapat aku genggam. 

Kini aku terduduk di pinggir pantai sambil menatap lurus ke arah remang matahari yang kian memerah. 
Cahayanya yang terasa abadi saat cerah kini perlahan terlihat seperti ditelan oleh lautan yang tak berujung. 
Indahnya menyeruakkan kedamaian tersendiri bagiku.

Setelah tiga perempat bagian matahari hilang aku berdiri dan mulai menyisiri pinggir pantai dengan menenteng alas kakiku. 
Pulang dengan tangan kosong dan berharap masih ada hari esok untuk menantikannya kembali. 
Menantikan momen momen bersama ombak yang bergulung-gulung sambil berkejaran. 
Menantikan harapan demi harapan terkabul, berdoa agar semua ini tak cepat berakhir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar